<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="25">
 <titleInfo>
  <title>EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY  TERHADAP&#13;
 HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA PESERTA DIDIK &#13;
SMP NEGERI 4 BUDONG – BUDONG</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>HASNI OCTAVIA HASAN</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
   <publisher></publisher>
   <dateIssued>2017</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text Word</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY  TERHADAP&#13;
 HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA PESERTA DIDIK &#13;
SMP NEGERI 4 BUDONG – BUDONG&#13;
&#13;
ABSTRAK&#13;
HASNI OCTAVIA HASAN, 2017. Efektivitas model pembelajaran Inquiry terhadap hasil belajar matematika pada peserta didik kelas VII SMP Negeri 4 Budong – Budong. ( Dibimbing oleh Kamaruddin Tone dan Nurhidayah)&#13;
          Penelitian ini dilatar belakangi karena rendahnya hasil belajar pada peserta didik pada pelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan hasil belajar matematika peserta didik melalui model pembelajaran Inquiry. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan desain penelitian the posttest-only control group design. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas VII SMP Negeri 4 Budong – Budong yang berjumlah 60 orang dan sampelnya adalah peserta didik kelas VIIa yang berjumlah 30 orang dan kelas VIIb yang berjumlah 30 orang. Instrumen dalam penelitian ini adalah tes, pedoman observasi dan angket respon. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif dan statistik inferensial. Dari hasil analisis statistik, diperoleh nilai rata–rata Pre–test  pada kelas kontrol yaitu 57,67 setelah diberi perlakuan dengan tidak menggunakan model pembelajaran Inquiry nilai rata – rata post - test  kelas kontrol yaitu 66,17 sedangkan pada kelas eksperimen nilai rata–rata Pre–test 57,17 setelah diberi perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran Inquiry nilai rata–rata post–test kelas eksperimen yaitu 73,33. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran Inquiry efektif terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik kelas VII SMP Negeri 4 Budong – Budong. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil perhitungan uji-t untuk data post-test kedua diperoleh data  t_hitung sebesar 2,204. Sedangkan untuk nilai t_tabel sebesar 1,67 yang berarti bahwa t_hitung&gt;t_tabel yaitu 2,204&gt;1,67. &#13;
&#13;
Kata Kunci : Efektivitas, Model Pembelajaran Inquiry.&#13;
PENDAHULUAN&#13;
Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kepribadian, peradaban dan kemajuan bangsa demi bangsa yang akan datang. Pendidikan nasional bersumber pada kebudayaan bangsa Indonesia berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar 1945 yang mengamanatkan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka mencerdaskan kehidupan berbangsa.&#13;
Ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia berkembang sangat pesat, kebutuhan masyarakat juga makin kompleks apalagi sekarang adalah era globalisasi yang menuntut masyarakat untuk mengimbanginya dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dan pengembangan sumber daya manusia dapat dilakukan salah satunya melalui pendidikan. &#13;
Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dilakukan oleh pemerintah antara lain dengan jalan melengkapi sarana dan prasarana, meningkatkan kualitas tenaga pengajar, serta penyempurnaan kurikulum yang menekankan pada pengembangan kecakapan hidup (life skill) yang di wujudkan melalui pencapaian kompetensi peserta didik untuk dapat menyesuaikan diri, dan berhasil di masa yang akan datang.&#13;
Menurut Mulyasa (2002:105) Proses pembelajaran pada hakekatnya untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik, melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Namun dalam pelaksanaannya seringkali kita tidak sadar, bahwa masih banyak kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan justru menghambat aktivitas dan kreativitas peserta didik.&#13;
Dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor yang dapat mempercepat proses perubahan dalam masyarakat dan mempengaruhi kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam usaha pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, matematika yang salah satu bidang ilmu memegang peranan penting serta mempunyai andil yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu-ilmu lain.&#13;
Menurut Soedjadi (2000: 138) bahwa matematika sebagai salah satu ilmu dasar, baik aspek terapan maupun aspek penalaran yang mempunyai peranan penting dalam upaya penguasaan ilmu dan teknologi. Hal ini berarti bahwa dalam upaya menguasai ilmu dan teknologi, setiap manuasia harus menguasai, mempelajari atau minimal pernah mengetahui matematika sebagai ilmu dasar. Mata pelajaran matematika perlu di berikan kepada semua peserta didik dimulai dari sekolah dasar untuk membekali para peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif serta mampu bekerjasama, sehingga peserta didik memiliki kompetensi memperoleh, mengolah, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang berubah, tidak pasti dan kompetitif. Matematika juga memberikan bekal kepada peserta didik untuk dapat menerapkan matematika di berbagai keperluan sehari-hari. &#13;
Mengingat peranan matematika yang merupakan sarana berpikir logis, analitis dan sistimatis sebagai sarana pengembangan intelektual dan penopang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka peranan matematika ini dapat dioptimalkan dengan penggunaan metode belajar yang tepat dan efektif.  Pemilihan metode mengajar yang tepat dalam proses pembelajaran dapat membuat peserta didik lebih terarah dengan baik serta meningkatkan kemampuan dan hasil belajar peserta didik, khususnya mata pelajaran matematika. Dalam proses pendidikan matematika pada setiap jenjang pendidikan, tidak semua peserta didik dapat  menyerap dan memahami materi yang diberikan. Hal ini dapat disebabkan karena setiap peserta didik mempunyai potensi, karakter dan intelektual yang berbeda-beda.  &#13;
Mengenai pembelajaran matematika di kelas pada umumnya hanya terpusat pada guru yang mengakibatkan peserta didik menjadi malas dan kurang bergairah dalam menerima pelajaran. Ini menunjukkan bahwa salah satu penyebab kurang berpartisipasinya peserta didik dalam proses pembelajaran adalah karena penerapan metode, model, maupun gaya belajar yang kurang tepat, padahal kesemuanya itu mempengaruhi hasil belajar.&#13;
Jadi sangatlah penting sebuah model pembelajaran yang tidak terlepas dari subtansi pembelajaran yang baik untuk di pergunakan oleh pendidik agar pencapaian tujuan pembelajaran dan tentunya pencapain Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dianggap efektif adalah di setiap pokok bahasan tercapai. &#13;
Dalam rangka mengembangkan potensi diri sumber daya manusia maka di perlukan pendidikan yang dapat di implementasikan dalam proses pembelajaan yaitu upaya yang dilakukan oleh guru untuk memaksimalkan tujuan proses pembelajaran yaitu merancang proses pembelajaran yang memacu siswa untuk mengembangkan potensi diri dan sikap positif, proses pembelajaran ini disesuaikan dengan materi dan mata pelajaran yang berlaku dalam tingkat pendidikan di Indonesia.&#13;
Proses pengajaran matematika harus lebih dipandang sesuai proses pengkontruksian pengetahuan dan penyadaran akan tanggung jawab peserta didik tentang proses pembelajaran yang dilakukan. Oleh karena itu, pengajaran matematika juga harus dipandang sebagai usaha untuk meningkatkan strategi dan cara belajar yang tepat. Pengajaran yang baik meliputi pengajaran peserta didik tentang bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berpikir, dan bagaimana memotivasi diri sendiri.&#13;
Pembinaan tenaga kependidikan khususnya guru adalah salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan. Dalam mengajar seseorang, guru harus memilih Model pembelajaran yang tepat karena hal tersebut banyak mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Dalam mengajarkan setiap pokok bahasan, sebaiknya dicari dan di terapkan model pembelajaran yang paling sesuai. Hal ini disebabkan setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan artinya tidak satu model pembelajaran lebih baik dibandingkan model pembelajaran lain.&#13;
Selain guru harus membenahi cara mengajarnya. Peserta didik seharusnya tidak hanya sekedar menirukan apa yang dilakukan oleh guru, tetapi harus secara aktif berbuat atas dasar kemampuan dan keyakinan sendiri. Cara inilah yang diharapkan akan menghantarkan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif dan tidak sekedar menjadi manusia siap pakai untuk mengisi pasaran kerja. Untuk itu peran guru sebagai pemberi ilmu sudah harus bergeser pada peran baru yang lebih kondusif bagi peserta didik yang menyiapkan diri guna menyongsong dan turut ambil bagian dalam pembangunan sejalan dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.&#13;
Untuk  mencapai tujuan pembelajaran matematika yang bersifat efektif dan efisien, maka diperlukan pembelajaran yang tepat. Salah satu strategi belajar-mengajar matematika adalah melalui Model Inquiry, karena dengan Model ini guru tidak semata-mata memberikan pengetahuan kepada peserta didik. Peserta didik harus membangun pengetahuannya dalam benaknya sendiri. Menurut Mulyasa (2002: 44) guru dapat membantu proses ini dengan cara  membuat informasi menjadi sangat bermakna dan relevan bagi peserta didik, dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan sendiri, dan mentransformasikan informasi kompleks, memeriksa aturan-aturan baru yang berlawanan dengan aturan lama, dan merevisi apabila aturan-aturan tersebut jika tidak sesuai lagi dengan informasi sebelumnya. &#13;
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran Matematika di SMP Negeri 4 Budong – Budong, pada pembelajaran matematika terdapat indikasi kurangnya daya serap peserta didik dan rendahnya hasil belajar. Agar prestasi dan hasil belajar peserta didik dapat berhasil dengan baik, maka sebaiknya menggunakan metode mengajar yang baik pula terutama metode mengajar yang dapat memberi peran lebih aktif kepada peserta didik dalam proses belajar di dalam kelas.&#13;
Berdasarkan uraian terdahulu, kaitannya dengan pembelajaran matematika di SMP Negeri 4 Budong-Budong Kecamatan Budong-Budong diperoleh  dari hasil wawancara dengan guru bidang studi matematika, peserta didik kelas VII masih rendah, hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata peserta didik yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan. Yakni KKM yang ditentukan 65 sedangkan nilai rata-rata peserta didik 63. Dari data yang diperoleh pada kelas VIIa yang berjumlah 30 peserta didik hanya 19 peserta didik yang mencapapai KKM atau hanya 73 %, sedangkan data yang diperoleh pada kelas VIIb yang terdiri dari 30 hanya 20 peserta didik yang mencapai KKM atau  74 %.   Ini diduga disebabkan kerena penggunaan model belajar yang kurang sesuai dengan keadaan peserta didik di sekolah. Peserta didik harus mencapai target KKM yang telah ditentukan sebagai tuntutan dari kegiatan pembelajaran. &#13;
METODE PENELITIAN&#13;
Jenis Penelitian&#13;
Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu yang bertujuan untuk mengetahui keefektivan model teori Inquiry dalam pembelajaran matematika, serta hasil belajar yang diajar melalui model teori Inquiry lebih baik dari pada hasil belajar yang diajar dengan pembelajaran konvensional. Dalam penelitian ini digunakan satu kelas sebagai kelas eksperimen dengan penerapan model pembelajaran Inquiry dan satu kelas sebagai kelas kontrol dengan pembelajaran tanpa model Inquiry.&#13;
	Variabel Penelitian&#13;
Adapun yang menjadi variabel dalam dalam penelitian ini yaitu :&#13;
	Hasil belajar peserta didik&#13;
	Aktivitas peserta didik&#13;
	Respon peserta didik &#13;
Desain penelitian ini adalah the posttest-only control group design. Desain ini menggunakan dua kelompok yang dibentuk secara acak. Pada kedua kelompok satu kelompok diberikan perlakuan (eksperimen) dan kelompok yang satu tanpa perlakuan (kontrol) dan akhirnya diberikan posttest (testnya sama).&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Tabel 3.1 Skema Desain Penelitian&#13;
R	E	X1	O1&#13;
R	K	X2	O2&#13;
&#13;
Keterangan :&#13;
R 	: Randomisasi&#13;
E	: Kelompok eksperimen&#13;
K 	: KeIompok kontrol&#13;
X1	: Perlakuan dengan penerapan model pembelajaran Inquiry&#13;
X2	: Perlakuan dengan pembelajaran tanpa model Inquiry&#13;
O1	: Postes setelah perlakuan untuk kelas eksperimen &#13;
O2	: Postestanpa perlakuan untuk kelas kontrol&#13;
Populasi dan Sampel Penelitian&#13;
	Populasi&#13;
Populasi adalah wilayah generalisasiyang terdiri atas objek / sabjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dielajari kemudian ditarik suatu kesimpulan ( dalam Sugiyono, 2011 : 80 ). Populasi  dalam penelitian ini  adalah seluruh peserta didik kelas VII SMP Negeri 4 Budong – Budong. Dari Hasil Observasi pada sekolah yang menjadi lokasi penelitian diketahui bahwa, jumlah keseluruhan jumlah peserta didik kelas VII SMP Negeri 4 Budong – Budong sebanyak 60 peserta didik.&#13;
&#13;
Tabel 3.2 : Daftar kelas, Jenis Kelamin dan jumlah peserta didik kelas VII SMP  &#13;
                  Negeri 4 Budong – Budong pada Semester Ganjil Tahun Pelajaran &#13;
                  2016 / 2017&#13;
&#13;
No	&#13;
Nama Kelas	Jenis Kelamin dan Jumlah	&#13;
Total Jumlah&#13;
		L Laki - Laki	Perempuan	&#13;
1	Kelas VIIa	11	19	30&#13;
2	Kelas VIIb	13	17	30&#13;
Jumlah			60&#13;
Sumber : Tata Usaha SMP Negeri 4 Budong – Budong&#13;
&#13;
&#13;
2. Sampel&#13;
Arikunto ( 2006 : 131 ) Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Muhammad Arif Tiro ( 2011 : 34 )Simple Random Sampling adalah pengambilan sampel dari anggota populasi yang homogen dengan cara sampel acak sederhana. Adapun teknik pemilihan kelas kontrol dan kelas eksperimen yaitu dengan cara diundi. Acakan pertama untuk menentukan kelas eksperimen dan sampel yang tampil kedua dijadikan sebagai kelas kontrol. Kelas VIIa sebagai kelas eksperimen dan kelas VIIb sebagai kelas kontrol.&#13;
Instrumen Penelitian&#13;
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:&#13;
	Tes hasil belajar, dimaksudkan untuk mengukur hasil belajar setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Inkuiri. Instrument ini dibuat sendiri oleh peneliti. Langkah pembuatannya adalah sebagai berikut: (1) membuat kisi-kisi, (2) mengembangkan soal-soal mengenai pokok bahasan yang akan di ajarkan, dan (3) memvalidasi soal-soal oleh validator.&#13;
	 Lembar observasi aktivitas Peserta Didik untuk mengetahui aktivitas Peserta Didik dalam kelas selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran Inkuiri.&#13;
	Lembar observasi aktivitas guru untuk mengetahui aktivitas guru mengelola pembelajaran dalam kelas selama proses pembelajaran berlangsung. Instrumen ini dikembangkan sesuai dengan yang tercantum pada RPP yang mengikuti langkah-langkah penerapan model pembelajaran Inquiry.&#13;
	  Angket respon Peserta Didik untuk mengetahui tanggapan Peserta Didik. Instrumen ini berisi tentang tanggapan Peserta Didik selama pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Inkuiri.&#13;
Teknik Pengumpulan Data&#13;
	Hasil Belajar dan Ketuntasan Belajar &#13;
Data dalam penelitian ini mengenai hasil belajar peserta didik diperoleh melalui tes hasil belajar matematika yang diberikan kepada kedua kelas, kelas eksperimen dan kelas kontrol tes yang diberikan berupa soal essay, pada kedua kelas tersebut diberikan pre test dan post test. Pre test diberikan sebelum proses belajar berlangsung dan post tes diberikan setelah proses atau tindakan pembelajaran berlangsung. &#13;
	Aktivitas Peserta Didik&#13;
Teknik pengumpulan data mengenai aktivitas peserta didik ini diperoleh melalui lembar observasi aktivitas peserta didik. Data aktivitas peserta didik diperoleh dari hasil pengamatan aktivitas selama proses pembelajaran berlangsung yang dilakukan oleh observer. Dalam mengukur aktivitas peserta didik, observer mengamati hal – hal yang menyangkut  aktivitas peseta didik selama kegiatan pembelajaran berlangsung pada lembar aktivitas peserta didik sesuai matriks uraian aspek yang akan dinilai. Mengenai aktivitas guru dilakukan pengumpulan data sesuai dengan pengamatan aktivitas peserta didik.&#13;
	Respon Peserta Didik &#13;
Teknik pengumpulan data respon peserta didik terhadap proses pembelajaran diperoleh dengan menggunakan aspek respon peserta didik. Data tentang respon peserta didik diperoleh sesudah proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran Inquiry pada kelas eksperimen. Dalam mengukur respon peserta didik peserta didik memberi tanda ceklis (√) pada pernyataan setuju atau tidak setuju beserta alasannya.&#13;
Teknik Analisis Data&#13;
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:&#13;
	Analisis Statistik Deskriptif &#13;
	Hasil Belajar dan Ketuntasan Belajar&#13;
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mendeskriptifkan hasil belajar matematika peserta didik untuk kelompok penelitian.Analisis ini meliputi rata-rata, standar deviasi, nilai maksimum, nilai minimum, dan tabel distribusi frekuensi.Ditinjau dari penggunaan skor analisis dan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) hasil belajar peserta didik yang ditetapkan oleh sekolah yaitu:&#13;
Tabel 3.2 Tabel Ketuntasan Belajar&#13;
Nilai	Kategori&#13;
0 ≤ x = 0,05.Untuk melakukan uji normalitas maka hipotesis statistiknya yaitu sebagai berikut :&#13;
H0	: Data hasil belajar berdistribusi normal&#13;
H1	: Data hasil belajar tidak berdistribusi normal&#13;
	Tiro (2013 :23 ) jika signifikan &gt; α maka HO  diterima dengan kata lain data berdisribusi normal dan jika signifikan &lt; α maka H1 ditolak dengan kata lain data berdistribusi tidak normal dimana nilai α =0,05maka data berdistribusi normal dan jika signifikansi &lt; 0,05 maka data tidak berdistribusi secara normal.&#13;
Jadi apabila hasil uji normalitas data diperoleh signifikansi &gt; 0,05 maka H0 diterima dan apabila Hasil uji normalitas data diperoleh signifikansi &lt; 0,05 maka H0 ditolak.&#13;
	Uji Homogenitas&#13;
Sementara untuk pengujian homogenitasnya yang digunakan adalah Levene’s for equality of variances, yang bertujuan untuk mengetahui apakah variansi data homogen. Data hasil belajar matematika yang diperoleh dikatakan homogen jika p &gt; = 0,05.&#13;
Rumusan hipotesis statistic yang yang digunakan adalah:&#13;
H0	: Data hasil belajar kedua kelas Homogen&#13;
H1	: Data hasil belajar kedua kelasTidak homogen&#13;
 Adapun kriteria pengujian menurut  Tiro (2012:270) dalam bukunya sebagai berikut:&#13;
kriteria berdasarkan signifikansi :&#13;
Jika signifikansi &gt; 0,05, maka H0 diterima&#13;
Jika signifikansi &lt; 0,05, maka H1 ditolak&#13;
Jika signifikansi &gt; 0,05 maka varians nilai rata-rata kelompok adalah sama dan  jika signifikansi &lt; 0,05 maka varians nilai rata-rata kelompok tidak sama.&#13;
	Uji Hipotesis&#13;
Untuk keperluan hipotesis digunakan statistik inferensial dengan bantuan program SPSS yaitu statistika uji-t (Equal Variances Assumed).Pengujian hipotesis dimaksudkan untuk menjawab hipotesis penelitian yang telah diajukan.Dimanap &lt; = 0,05, berarti H0  ditolak dan H1 diterima.&#13;
Untuk keperluan pengujian  statistik maka hipotesis statistik dirumuskan sebagai berikut :&#13;
H0 :  µ1 = µ2 &#13;
H1	 : µ1&gt;µ2&#13;
Keterangan &#13;
µ1 :Parameter skor rata-rata prestasi belajar peserta didik setelah diajar dengan model pembelajaran Inquiry&#13;
µ2 :Parameter skor rata-rata prestasi belajar matematika peserta didik setelah diajar dengan tampa menggunakanmodel pembelajaran ingkuiri.&#13;
Hasil dari thitung dibandingkan dengan ttabel.Jika  nilai thitung lebih besar dari nilai ttabel maka H1 diterima dan H0 ditolak.&#13;
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN&#13;
	Pembelajaran Matematika melalui Model Inquiry&#13;
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hasil belajar matematika peserta didik yang diajar dengan Model Inquiry pada kelas eksperimen ditinjau dari tingkat kemampuan peserta didik berada pada kategori tuntas dengan tingkat ketuntasan klasikal mencapai 80% serta pengetahuan peserta didik menunjukan peningkatan yang signifikan setelah belajar dengan menerapkanModel Inquiry&#13;
Secara keseluruhan, pembelajaran matematika Model Inquiry dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami materi Operasi hitung bilangan bulat dan pecahan, hal ini ditunjukan bahwa mayoritas peserta didik berada pada kategori tuntas. Pembelajaran ini juga mampu meningkatkan aktifitas peserta didik; hal ini dilihat dari dominasi peserta didik dalam proses pembelajaran untuk menemukan jawaban sediri sangat antusias.peserta didik dalam pembelajaran ini berlangsung secara optimal mulai dari aktivitas dalam kelompok untuk menyelesaikan masalah nyata pada lingkungan sekitar yang telah disajikan pada LKS, maupun aktivitas dalam kelas untuk berinteraksi terhadap kelompok lain melalui diskusi kelas. Secara umum, dalam pembelajaran ini peserta didik diedukasi untuk membentuk pengetahuannya sendiri melalui rangkaian penyelesaian masalah yang dirumuskan pada LKS.Sifat dari LKS itu mampu untuk memancing peserta didik menemukan jawaban sendiri dalam hal melakukan reinvention terhadap pemahaman peserta didik dimasa lalu, ini tampak ketika peserta didik terlihat sedang mengingat-ingat kembali materi yang telah diperoleh sebelumnya serta melakukan diskusi terhadap teman dalam kelompoknya. Hal itu sangat lazim terjadi dalam matematika secara utuh, sebab konsep matematika  bersifat hirarkis dan saling terkait.&#13;
Ada tiga ciri pembelajaran Inquiry, yaitu pertama, Strategi Inquiry menekankan pada aktivitas peserta didiksecara maksimal untuk mencari dan menemukan (peserta didiksebagai subjek belajar). Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan peserta didikdiarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri yang sifatnya sudah pasti dari sesuatu yang sudah dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sifat percaya diri. Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran Inquiry adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis.&#13;
Pembelajaran Inquiry dirancang untuk mengajak peserta didik secara langsung ke dalam proses ilmiah ke dalam waktu yang relativ singkat. Hasil penelitian Schlenker (dalam Trianto 2009:136) menunjukkan bahwa latihan inkuiri dapat meningkatkan pemahaman sains, produktif dalam berpikir kreatif, dan peserta didik menjadi terampil dalam memperoleh dan menganalisis informasi.&#13;
Peran peserta didik dalam Model inkuiri sangat besar. Mereka juga semakin menyadari bahwa kualitas pengetahuan yang akan mereka peroleh sangat ditentukan oleh usaha atau aktivitas mereka dalam kelas. Peserta didik berlomba-lomba untuk mengambil peran dalam pembelajaran.Hal ini tampak terlihat dari diskusi kelas, dimana pada setiap pertemuan, peserta didik yang disebutkan nomornya pada setiap kelompok selalu mengacungkan tangan.Karena keterbatasan waktu, maka tidak semua peserta didik dapat mengambil bagian dalam diskusi kelompok.Namun hal tersebut tidak menjadikan peserta didik untuk tidak menyenangi pembelajaran ini sebab faktanya peserta didik merespon positif terhadap pembelajaran ini.&#13;
Berdasarkan tingkat kematangan peserta didik, model Inquiry dapat dilakukan dalam lima tingkatan, yaitu Inquiry tradisional, Inquiry terbimbing, Inquiry mandiri, keterampilan prosedur ilmiah, Penelitian peserta didik. Terdapat tiga aspek yang sama penting dalam pembelajaran, yaitu tujuan pembelajaran, Kegiatan Belajar/Mengajar dan materi, hasil evaluasi. Proses yang baik diasumsikan akan mendapatkan hasil yang baik. Proses belajar yang efektif harus melibatkan sebanyak mungkin alat indera. Model Inquiry, melibatkan semua indera sehingga pengetahuan peserta didikakan menjadi tahan lama. Perumusan indikator, harus memikirkan efek samping terutama pada tahapan perkembangan psikologi peserta didik. Kelemahan model Inquiry (kekacauan pembelajaran), dapat terjadi kalau guru tidak melakukan pembimbingan secara terarah dan bertanggung jawab. Guru penting melakukan monitoring atau pengontrolan terhadap aktivitas peserta didik.&#13;
	Penerapan Model Inquiry dan Model Konvensional&#13;
	Dalam penelitian ini adalah jenis penelitian eksperimen, ini biasanya berbentuk definisi umum tentang belajar atau deskripsi umum tentang fenomena yang dikaji.Kemudian, kita berusaha menyebutkan kondisi-kondisi yang di perlukan agar fenomena itu terjadi. Terakhir, kita mesti mengubah pernyataan teoritis tentang proses belajar dalam trem aktivitas atau pelaksanaan eksperimental yang dapat di identifikasi dan dapat diulan. Ini dinamakan operational definition (defenisi operasional). Dengan kata lain, sebuah defenisi operasional akan menghubungkan hal – hal yang didefinisikan dengan operasi yang dipakai untuk mengukurnya. &#13;
	Setiap eksperimen melibatkan sesuatu yang perubahannya diukur, yakni dependent variable (variabel terikat), dan sesuatu yang dikontrol atau dimanupulasi oleh ekperimental untuk melihat eveknya terhadap variabel terkait itu, yakni independent variable (variabel bebas).&#13;
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh kelas VII SMP Negeri 4 Budong-Budong. Pemilihan sampel dilakukan secara acak sehingga diperoleh VIIa sebagai kelompok eksperimen dan kelas VIIb sebagai kelompok kontrol. Untuk mengtahui kondisi awal kedua kelas tersebut, maka peneliti memberika tes awal (Pretest) dengan soal yang sama kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Untuk kelas VIIa memperoleh nilai rata-rata 57,17, kelas VIIb memperoleh nilai rata-rata 57,67.&#13;
	Sebelum memberikan perlakuan terlebih dahulu peneliti melakukan pegujian terhadap dua kelompok sampel yangdiambil secara acak. Tujuan hal tersebut untuk mengetahui kedua sampel tersebut berdistribusi normal dan homogen. Hasil yang diperoleh dari analisis dengan mengunakan program SPSS 20 For Windows dua sampel tersebut berdistribusi normal dan homogen, maka dari itu dapat dilanjudkan penelitian atau dengan kata lain memberikan perlakuan.&#13;
	Selanjutnya dilakukan pengajaran dengan memberikan perlakuan yang berbeda kepada kedua kelompok yang ada. Perlakuan yang diberikan yaitu untuk kelompok eksperimen diajar dengan model Inquiry dan kelompok kontrol diajar dengan model konvensional yang biasa digunakan guru matematika kelas VII dalam proses belajar mengajar. Langkah berikutnya pemberian posttest yaitu tes hasil belajar. Kemudian hasil belajar tersebut dianalisis secara deskriptif dan inferensial.&#13;
Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar peserta didik yang diajar dengan model Inquiry adalah 73,33 dari skor ideal 100 sedangkan skor rata-rata hasil belajar peserta didik yang diajar dengan model konvensional adalah 66,17 dari skor ideal 100. Terlihat bahwa skor rata-rata hasil belajar peserta didik pada kelompok eksperimen lebih baik daripada skor rata-rata hasil belajar kelompok kontrol.&#13;
	Hasil analisis inferensial dengan menggunakan statistik uji-t menunjukkan bahwa hasil belajar matematika peserta didik kelas VII SMP Negeri 4 Budong-Budong yang diajar dengan model Inquiry lebih tinggi daripada hasil belajar peserta didik yang diajar dengan model konvensional. &#13;
	Jika dilihat dari perbandingan skor rata-rata hasil belajar matematika yang diperoleh pada pre-test  dan post-test. Maka, pada kelas eksperimen diperoleh skor rata-rata pre-test sebesar 57,17 sedangkan pada post-test sebesar 73,33. Menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar sudah signifikan, dimana setelah adanya perlakuan yaitu pengajaran dengan model Inquiry skor rata-rata hasil belajar matematika peserta didik kelas VIIa berada dalam kategori tuntas. Selanjutnya, pada kelas kontrol diperoleh skor rata-rata PreTest sebesar 57,67 sedangkan pada post-test sebesar 66,17. Menunjukkan bahwa pada kelas kontrol juga ada peningkatan hasil belajar walaupun belum signifikan, dimana setelah adanya perlakuan yaitu pengajaran dengan model konvensional skor rata-rata hasil belajar matematika peserta didik kelas VIIb masih berada dalam kategori belum tuntas.&#13;
Hasil yang diperoleh ini disebabkan oleh faktor keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran.Pada peserta didik yang diajar dengan model Inquiry, keaktifan peserta didik dalam belajar lebih dititikberatkan.Peserta didik diberikan kesempatan dengan kemampuannya sendiri untuk menemukan pemecahan dari masalah yang diberikan kepadanya dengan menggunakan konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika yang telah dipelajari sebelumnya. Mereka akan merasa puas jika dapat menemukan jawaban dari masalah yang diberikan kepadanya, sehingga peserta didik akan lebih tertarik untuk mempelajari prinsip-prinsip atau konsep yang diberikan. Hal ini akan mengakibatkan konsep matematika yang dipelajari akan lebih lama untuk diingat oleh peserta didik. Sedangkan bila dibandingkan dengan menggunak</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>NONE</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Digital Library Management System Universitas Al Asyariah Mandar</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>25</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2018-02-01 09:35:19</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2018-02-01 09:35:19</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>