<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="23">
 <titleInfo>
  <title>PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT)&#13;
PADA KELAS VIIA SMP NEGERI 2 BUDONG-BUDONG</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>WIWIK RUDJATININGSIH</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text"></placeTerm>
   <publisher></publisher>
   <dateIssued>2017</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text Word</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT)&#13;
PADA KELAS VIIA SMP NEGERI 2 BUDONG-BUDONG&#13;
ABSTRAK&#13;
WIWIK RUDJATININGSIH. 2017. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Kooperatif Tipe Time Games Tournament (TGT) Pada Peserta Didik Kelas VIIA  SMP Negeri 2 Budong-budong. ( Dibimbing oleh  Sukaji Sarbi  dan Fatimah ).&#13;
	Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar matematika yang di capai oleh peserta didik kelas VIIA SMP Negeri 2 Budong-budong setelah melalui model pembelajaran time games tournament ( TGT). Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas VIIA SMP Negeri 2 Budong-budong pada semester ganjil tahun pelajaran 2016/2017 dengan jumlah peserta didik 27 orang. Penelitian ini di lakukan sebanyak 2 siklus, masing-masing siklus 4 kali pertemuan termasuk tes setiap akhir siklus. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan tes tertulis pada akhir siklus dan observasi terhadap aktivitas peserta didik yang dilakukan setiap proses pembelajaran berlangsung. Data penelitian dianalisis dengan analisis deskriptifse. Hasil analisis deskriptif kualitatif memperlihatkan bahwa keaktifan peserta didik kelas VIIA SMP Negeri 2 Budong-budong dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, seperti keaktifan dalam memperhatikan penjelasan guru dan menyimak contoh soal, menyimak soal-soal dalam LKS, diskusi atau kerja kelmpok dalam menjawab soal-soal LKS, mempresentasekan hasil kerja kelompok dan menanggapi hasil presentasi dari kelompok lain, dan keaktifan dalam mengerjakan soal-soal latihan secara individu dapat di tingkatkan melalui penerapan model pembelajaran TGT. Hasil analisis deskriptif kuantitatif memperlihatkan bahwa nilai rata-rata  hasil belajar matematika yang di capai peserta didik kelas VIIA SMP Negeri 2 Budong-budong mengalami peningkatan, diman nilai rata-rata pada skor awal adalah 44,26 yang berkategori rendah. Pada siklus 1 (setelah penerapan model pembelajaran TGT ) meningkat menjadi 58,70, demikian pula dari siklus 1 ke siklus 2 terjadi peningkatan  yaitu dari 58,70 menjadi 77,41.  Pada siklus 1 peserta didik yang hasil belajarnya berada pada kategori tinggi dan sangat tinggi yaitu 3 orang atau sebesar 11,12  dan pada siklus 2 meningkat menjadi 19 orang atau 71,5 . dengan demikian , hasil belajar matematika yang di capai peserta didik kelas VIIA SMP Negeri 2 Budong-budong kabupaten mamuju tengah dapat ditingkatkan melalui penerapan model pembelajaran koperatif tipe teams games tournament (TGT).&#13;
Kata Kunci : Penerapan, teams games tournament (TGT )&#13;
PENDAHULUAN&#13;
Latar Belakang &#13;
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidkan Nasional menyebutkan, bahwa pendidian Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabak dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang Beriman dan Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi Warga Negara yang demokratis serta bertaggung jawab. &#13;
Menurut Soedjadi (2000: 138) bahwa matematika sebagai salah satu ilmu dasar, baik aspek terapan maupun aspek penalaran yang mempunyai peranan penting dalam upaya penguasaan ilmu dan tehnologi. Hal ini berarti bahwa dalam upaya menguasai ilmu dan tehnologi , setiap manuasia harus menguasai, mempelajari atau minimal pernah mengetahui matematika sebagai ilmu dasar. Mata pelajaran matematika perlu di berikan kepada semua peserta didik dimulai dari sekolah dasar untuk membekali para peserta didik dengan kemampuan berpikir logis,analitis, sistematis, kritis, dan kreatif serta mampu bekerjasama, sehingga peserta didik memiliki kompetensi memperoleh, mengolah, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang berubah, tidak pasti dan kompetitif. Matematika juga memberikan bekal kepada peserta didik untuk dapat menerapkan matematika di berbagai keperluan sehari-hari. &#13;
Dalam rangka mengembangkan potensi diri sumber daya manusia maka di perlukan pendidikan yang dapat di implementasikan dalam proses pembelajaan yaitu upaya yang dilakukan oleh guru untuk memaksimalkan tujuan proses pembelajaran yaitu merancang proses pembelajaran yang memacu peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dan sikap positif, proses pembelajaran ini disesuaikan dengan materi dan mata pelajaran yang berlaku dalam tingkat pendidikan di Indonesia. &#13;
Menurut Anni (Sari:2012) tugas guru dalam proses pembelajaran adalah : (1) memperlancar peserta didik dengan cara mengajarkan membuat informasi bermakna dan relevan dengan peserta didik, (2) memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan atau menerapkan gagasannya sendiri, (3) menanamkan kesadaran belajar dan menggunakan strategi belajarnya sendiri. Banyak sekali metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar agar hasil yang dicapai memuaskan, yaitu metode pembelajaran yang tepat atau metode yang dapat membangkitkan minat belajar dan pemahaman peserta didik terhadap mata pelajaran matematika.&#13;
Pembelajaran yang dilakukan di sekolah sebagaian besar guru menyampaikan  materi ajar biasanya hanya menggunakan metode ceramah, diskusi, tanya jawab hampir pada semua mata pelajaran. Tetapi pada kenyataannya proses belajar mengajar yang berlangsung di sekolah itu masih lemah dalam pembelajaran matematika. Dapat dilihat dari hasil observasi terhadap proses pembelajaran matematika di kelas VII SMP Negeri Budong-budong tahun ajaran 2016/2017 di temukan beberapa masalah. &#13;
Pada saat proses belajar berlangsung, terlihat sebagian besar peserta didik kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran, hal ini terlihat pada saat guru bertanya tentang materi pelajaran kepada peserta didik, dan hanya beberapa peserta didik saja yang terlihat aktif menjawab, sementara peserta didik lainnya terlihat diam saja, masalah berikutnya sebagian besar peserta didik di kelas masih belum berani bertanya kepada guru tentang materi yang belum di pahami, serta sebagian peserta didik masih belum berani mengemukakan ide atau gagasan-gagasannya, sehingga peserta didik kurang memahami konsep-konsep dari materi pelajaran. Ini terlihat dari hasil analisis ujian yang menggambarkan adanya ketidaksesuaian penggunaan aturan untuk menyelesaikan suatu permasalahaan. Dan diperoleh keterangan bahwa mereka cukup mengerti konsep dan contoh soal yang diberikan guru ketika mengajar, namun ketika di beri soal tipe lain mereka kesulitan untuk menyelesaikannya. Hal ini mengindifikasikan bahwa mereka belum mencapai pemahaman konsep, sepertih halnya hasil ujian matematika peserta didik kelas VII SMP Negeri Budong-budong tahun 2016/2017 yang masih tergolong rendah, terlihat pada kelas VIIA  sebanyak 27 orang mempunyai rata-rata nilai tes 55,15 dan yang tuntas sebanyak 15 orang, hal ini belum mencapai ketuntasan secara klasikal.&#13;
Masih rendahnya prestasi belajar matematika peserta didik kelas VII SMP Negeri Budong-budong disebabkan karena pola pembelajaran cenderung menggunakan model pengajaran langsung, yaitu suatu model pengajaran yang berpusat pada guru.&#13;
Berbagai usaha telah dilakukan guru ke arah peningkatan hasil belajar matematika, namun sampai saat ini masih banyak keluhan dari berbagai pihak tentang rendahnya kualitas pendidikan pada umumnya dan pendidikan pada khususnya. Untuk itu penggunaan metode yang tepat akan menentukan peningkatan hasil pembelajaran dalam rangka meningkatkan prestasi belajar peserta didik untuk itu, guru diharapkan melaksanakan hasil penilaian secara berkesinambungan.&#13;
Strategi mengajar merupakan cara yang digunakan oleh guru dalam mengajarkan materi pelajaran dengan memusatkan perhatian pada situasi belajar untuk mencapai tujuan. Strategi mengajar yang baik adalah strategi yang menuntut keaktifan peserta didik dalam berpikir dan bertindak secara kreatif dalam mengembangkan materi yang sudah dikuasai. Dengan berjalannya waktu berbagai teori belajar yang dapat dipilih dan dimanfaatkan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran matematika, namun proses  memilih ini disesuaikan dengan sisi dan aspek tertentu yang ada dalam diri peserta didik. &#13;
 Suherman et oll (2003: 49) “Mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang konkret akan dapat dipahami dengan baik, ini mengandung arti bahwa jika benda-benda atau objek-objek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika.” Dienes membagi beberapa tahap agar konsep-konsep matematika akan berhasil jika dipelajari dalam tahap-tahap tertentu.&#13;
&#13;
Tahapan-tahapan tersebut sebagai berikut.&#13;
1.	Permainan Bebas (Free Play)&#13;
2.	Permaianan yang menggunakan Aturan (Games)&#13;
3.	Permaianan Kesamaan Sifat (Searching for  Communalities)&#13;
4.	Permainan Representasi (Representation)&#13;
5.	Permainan dengan Simbolisasi (Symbolitation)&#13;
6.	Permainan dengan Formalisasi (Formulitation)&#13;
Teori yang diciptakan Dienes membantu dalam proses menkontruksi pengetahuan melalui tahapan-tahapan diatas akan lebih bermakna jika menggunakan unsur kelompok dalam prosesnya, karena dalam permaianan akan tercipta kompetisi antar kelompok yang diharapkan mampu meningkatkan rasa cinta peserta didik terhadap proses. Model pembelajaran kooperatif yang memenuhi kebutuhan guru dalam rangka pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang menggunakan unsur kelompok.&#13;
Dengan adanya kegiatan yang bervariasi peserta didik akan merasa tertarik mempelajari hal-hal yang disajikan dalam pembelajaran, adapun pendukung keberhasilan belajar adalah kesiapan belajar. Kesiapan belajar adalah kondisi-kondisi yang mendahului kegiatan belajar mengajar itu sendiri. Kesiapan belajar terhadap materi yang diajarkan oleh guru dapat berdampak pada prestasi peserta didik itu sendiri. Adapun faktor lain yang menunjang keberhasilan belajar peserta didik adalah keaktifan peserta didik di kelas. Menurut Dimyanti (2000) kegagalan dan keberhasilan sangat bergantung pada peserta didik karena individu mempunyai sifat dan karakter yang berbeda. Makin aktif peserta didik dalam proses belajar mengajar, baik mandiri maupun di sekolah makin cepat tercapai prestasi belajarnya.&#13;
METODE PENELITIAN&#13;
Jenis Penelitian&#13;
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Reseach). Tindakan yang diberikan adalah pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Tames Games Tournament (TGT). Sesuai dengan hakekat penelitian tindakan kelas maka prosedur pelaksanaan penelitian untuk masing-masing siklus melalui tahapan-tahapan perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), observasi (observing) dan evaluasi (evaluating), dan refleksi (reflecting).&#13;
Subyek Penelitian&#13;
Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas VIIa SMP Negeri 2 Budong budong. Pada semester ganjil tahun pelajaran 2016/2017 dengan jumlah peserta didik 27 orang (11 orang peserta didik laki-laki dan 16 orang peserta didik perempuan).&#13;
Instrumen Penelitian&#13;
Instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah:&#13;
1.	Lembar Observasi &#13;
Lembar Observasi digunkan untuk mengetahui data tentang  kehadiran peserta didik, keaktifan, dan perhatian peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar dan lemabar aktivitas guru dilakukan untuk mengetahu keterlasanaan model pembelajaran yang diterapkan guru dengan model kooperatif tipe Tames Games Tournament (TGT).&#13;
2.	Tes Hasil Belajar&#13;
Tes hasil belajar digunakan untuk memperoleh informasi tentang penguasaan peserta didik setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif tipe Tames Games Tournament (TGT).&#13;
Teknik Pengumpulan Data&#13;
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah  sebagai berikut :&#13;
a.	Data mengenai aktifitas dalam mengikuti proses belajar-mengajar diambil dengan pengamatan langsung menggunakan pedoman observasi saat proses pembelajaran berlangsung.&#13;
b.	Data hasil belajar peserta didik diambil dari tes hasil belajar setelah menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Tames Games Tournament (TGT).&#13;
&#13;
Teknik Analisis Data&#13;
		Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif. Untuk analisis kuantitatif digunakan deskriptif yaitu rata–rata skor dan persentase. Selain itu, juga ditentukan pula standar deviasi, tabel frekuensi dan persentase, nilai minimum dan maksimum yang peserta didik peroleh pada setiap pokok bahasan. (Purwanto, 2011: 116) &#13;
&#13;
1.	Rata-rata ( x)&#13;
							∑fixi&#13;
x   =  &#13;
							∑fi&#13;
		Keterangan :&#13;
	x	=	Rata-rata nilai hasil belajar yang dicapai peserta didik&#13;
	fi	=	Frekuensi masing-masing kelas interval&#13;
	xi	=	Nilai tengah masing-masing kelas interval&#13;
2.	Rentang (range)&#13;
		Rentang = Data terbesar – Data terkecil&#13;
&#13;
3.	Modus (Mo)&#13;
				                                         b1&#13;
Mo= b + p                    &#13;
 			     b1 + b2&#13;
	&#13;
Keterangan :&#13;
	b 	=	Batas bawah kelas modus&#13;
	p	=	Panjang kelas modus&#13;
	b1	=	Frekuensi kelas modus – Frekuensi sebelumnya&#13;
	b2	=	Frekuensi kelas modus – Frekuensi sesudahnya&#13;
4. 	Median (Me)&#13;
                                                       ½ n - F   &#13;
Me=  b + p            &#13;
							       F&#13;
	Keterangan :&#13;
	b 	=	Batas bawah kelas median&#13;
	p	=	Panjang kelas median&#13;
	n	=	Jumlah data&#13;
	F	=	Jumlah semua frekuensi sebelum frekuensi kelas median&#13;
	f	=	Frekuensi kelas median&#13;
&#13;
5.	Standar Deviasi (s)&#13;
									n∑fixi2  - (∑fixi)2&#13;
s   = &#13;
									n(n – 1)&#13;
	Keterangan :&#13;
	s	=	Standar deviasi nilai hasil belajar yang dicapai peserta didik&#13;
	fi	=	Frekuensi masing-masing kelas interval&#13;
	xi	=	Nilai tengah masing-masing kelas interval&#13;
      n  =  Jumlah data&#13;
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN&#13;
Penelitian tindakan ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus. Siklus I dan Siklus II dilaksanakan masing-masing selama 4  kali pertemuan. Setelah Siklus I dan Siklus II dilaksanakan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan penguasaan matematika peserta didik yang dapat dilihat pada peningkatan nilai hasil belajar. Serta peningkatan motivasi dan aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran. &#13;
1.	Hasil pengamatan terhadap aktivitas peserta didik model pembelajaran kooperatif tipe TGT&#13;
&#13;
Hasil pengamatan observer terhadap aktivitas peserta didik selama 2 siklus berada pada kategori aktif. Peserta didik sangat antusias dalam mengikuti pembelajaran dengan Model Kooperatif tipe TGT serta menunjukkan aktivitas aktif dalam berinteraksi dalam kelompok. Hal ini sejalan dengan pendapat Suradi (2007) bahwa dengan menggunakan Model Kooperatif tipe TGT, peserta didik diberikan kesempatan dengan berbagai latar belakang kemampuan dan kondisi sosial yang berbeda untuk bekerja sama, saling tergantung dan belajar saling menghargai satu dengan lainnya. Kondisi semacam ini memungkinkan berkembangnya keterampilan-keterampilan untuk bekerjasama yang memang sangat dibutuhkan dalam hidup bermasyarakat. Hal ini juga diperkuat dengan pendapat Slavin (2009)  yang menemukan bahwa dengan belajar kooperatif membuat anggota kelompok bersemangat.&#13;
Hasil pengamatan terhadap aktivitas peserta didik dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, terlihat bahwa peserta didik sudah aktif terlibat dalam tugas, tidak canggung lagi dalam bekerjasama, saling memberi dan menerima , saling memberikan dukungan serta menghargai pendapat orang lain. Hasil pengamatan aktivitas peserta didik dapat dilihat pada lampiran,  aktifitas peserta didik terpenuhi yakni aktif terlibat dalam tugas, aktif berdiskusi dengan teman, menjawab/menanggapi pertanyaan teman/guru dan memberi bantuan penjelasan kepada teman yang membutuhkan merupakan syarat utama dari kategori yang terpenuhi.&#13;
Tingkat kehadiran peserta didik juga mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari daftar absensi selama dua siklus. Hal yang sangat menggembirakan bagi penulis adalah terjadinya peningkatan kehadiran yang sangat mencolok yang dialami oleh seorang peserta didik. Sebelum penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, tingkat kehadiran peserta didik tersebut dalam sebulan tidak sampai 50% tetapi setelah penerapan Model Kooperatif tipe TGT tingkat kehadirannya mengalami peningkatan bahkan selama Siklus II tingkat kehadirannya mencapai 100%.&#13;
Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, kualitas proses pembelajaran dapat ditingkatkan karena dengan perangkat pembelajaran yang dibuat oleh penulis berdasarkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, guru tidak lagi harus menyajikan informasi sebanyak-banyaknya tetapi hanya berperan sebagai fasilitator maupun motivator. Perangkat pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat membangun sendiri pengetahuan lewat pengalamannya. Hal ini sesuai dengan karakteristik realistik dan juga didukung oleh teori Ausubel (dalam Dahar, 1995), belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Penggunaan alat peraga yang sesuai juga sangat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Akibatnya, iklim pembelajaran menjadi kondusif karena pembelajaran menjadi berpusat pada peserta didik. Model pembelajaran yang demikian menyebabkan peserta didik belajar dengan antusis, begitu pula guru. Pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang telah dirancang tersebut, berdasarkan hasil pengamatan penulis menunjukkan kecenderungan dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik artinya peserta didik menjadi asyik belajar bahkan sampai batas waktu berakhir, kelihatannya peserta didik masih tetap ingin belajar dan sebagian besar peserta didik meminta perangkat tersebut untuk dipelajari di rumah.&#13;
Hasil pengamatan observer terhadap kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran selama 2 siklus menunjukkan peningkatan. Hal ini disebabkan pada setiap akhir pertemuan guru (peneliti) berdiskusi dengan observer dalam melihat hasil pengamatan selama 2 x 45 menit. Hal ini memungkinkan untuk memperbaiki penampilan guru pada pertemuan berikutnya dengan memperhatikan aspek-aspek yang dinilai kurang pada pertemuan sebelumnya.&#13;
Aktivitas guru dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT bukan lagi mentransfer pengetahuan, sumber utama pengetahuan bagi peserta didik dan mendominasi pembelajaran tetapi peran guru sebagai motivator ataupun fasilitator dalam menciptakan suasana yang memungkinkan peserta didik dalam mengonstruksi pengetahuannya dan  berinteraksi secara positif. Aktif, dan kreatif. Peran guru dalam memfasilitasi belajar peserta didik berimplikasi pada keaktifan peserta didik dalam belajar dan meningkatkan hasil belajar peserta didik. Hal ini sesuai dengan prinsip reaksi  yang diharapkan dalam Model Kooperatif tipe TGT .&#13;
&#13;
Dengan adanya minat peserta didik yang besar dalam kegiatan pembelajaran akan berpengaruh kepada peningkatan motivasi belajar peserta didik dan pada akhirnya akan berpengaruh pula pada peningkatan hasil belajar peserta didik. Peserta didik merasa dengan belajar kooperatif menjadikan pelajaran menjadi lebih mudah dipahami dan diingat apalagi dengan menggunakan alat peraga matematika. Berdasarkan hasil wawancara dengan peserta didik terlihat bahwa peserta didik senang dengan Masalah karena pada Masalah dilengkapi dengan gambar berwarna yang sangat menarik serta soal-soal yang sesuai dengan lingkungan peserta didik, Masalah juga dilengkapi dengan alat peraga sehingga peserta didik dapat mengonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Di samping itu peserta didik sangat berminat untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya dengan alasan cara guru membimbing dan berada di samping peserta didik yang membutuhkan bimbingan membuat peserta didik merasa senang dan merasa diperhatikan. Peserta didik juga tidak canggung lagi berdiskusi, bertanya maupun menanggapi pendapat dari peserta didik lain serta peserta didik dengan kemampuan tinggi tidak bersifat invidual lagi.&#13;
&#13;
2.	Hasil belajar peserta didik setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT&#13;
&#13;
Hasil analisis data hasil belajar peserta didik pada materi operasi hitung pecahan menunjukkan peningkatan skor rata-rata dari tes awal ke skor hasil belajar Siklus I maupun ke skor hasil belajar Siklus II. &#13;
Pada tes awal   jumlah subjek 27 orang, skor rata-rata tes hasil belajar sebesar  44,26 dari nilai ideal 100 dengan nilai tertinggi 70 dan nilai terendah 20. Setelah nilai peserta didik dikelompokkan ke dalam lima kategori maka 10 orang peserta didik berada pada kategori ”sangat rendah”, 13 orang peserta didik berada pada kategori ”rendah”, 4 orang peserta didik berada pada kategori ”sedang”, tak ada peserta didik berada pada kategori ”tinggi” dan ”sangat tinggi”. Apabila hasil tes awal dianalisis maka 23 orang peserta didik tidak tuntas karena nilainya &lt; 65.&#13;
Pada tes hasil belajar Siklus I  jumlah subjek 27 orang, nilai rata-rata tes hasil belajar sebesar 58,70 dari nilai ideal 100 dengan nilai tertinggi 80 dan nilai terendah  40. Setelah nilai peserta didik dikelompokkan ke dalam lima kategori maka  tidak ada peserta didik berada pada kategori ”sangat rendah”, 11 orang peserta didik berada pada kategori ”rendah”, 13 orang peserta didik berada pada kategori ”sedang”, 3 orang peserta didik berada pada kategori ”tinggi” dan tidak ada peserta didik berada pada kategori  ”sangat tinggi”. Apabila hasil hasil belajar siklus I  dianalisis maka  19 orang peserta didik tidak tuntas karena nilainya &lt; 65. &#13;
Pada tes hasil belajar Siklus II  jumlah subjek 27 orang nilai rata-rata tes hasil belajar sebesar 77,41 dari nilai ideal 100 dengan nilai tertinggi 95 dan nilai terendah  60. Setelah nilai peserta didik dikelompokkan ke dalam lima kategori maka  tidak ada peserta didik berada pada kategori ”sangat rendah”, tidak ada peserta didik berada pada kategori ”rendah”, 8 orang peserta didik berada pada kategori ”sedang”, 17 orang peserta didik berada pada kategori ”tinggi” dan 2 orang peserta didik berada pada kategori  ”sangat tinggi”. &#13;
Berdasarkan data tersebut, terlihat terjadi peningkatan skor rata-rata penguasaan matematika peserta didik dari Siklus I  ke Siklus II secara nyata dan berdasarkan nilai hasil belajar Siklus I dan Siklus II terlihat banyaknya  peserta didik yang telah mencapai kriteria ketuntasan minimal ≥ 65 maka tercapai ketuntasan klasikal (ketuntasan klasikal ≥ 85%). Sebatas pengalaman peneliti sebagai guru matematika, ternyata bahwa hasil evaluasi pada materi sebelumnya tidak pernah mencapai ketuntasan klasikal. Hal ini menguatkan keyakinan peneliti bahwa pembelajaran kooperatif utamanya model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik serta dapat mencapai ketuntasan belajar. Hasil penelitian ini sesuai dengan temuan Suradi (2005),  bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan akademik peserta didik dan variasi skor prestasi akademik antara peserta didik yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah setelah pembelajaran kooperatif semakin kecil.&#13;
Berdasarkan rekapitulasi tes hasil belajar, terdapat 17 orang peserta didik yang mengalami peningkatan skor hasil belajar dari Siklus I ke Siklus II.  Berdasarkan hasil wawancara dengan peserta didik tersebut, diperoleh informasi bahwa mereka lebih senang dengan soal dalam kalimat matematika dibandingkan dengan soal dalam bentuk soal cerita. Bagi mereka soal realistik membingungkan karena harus diterjemahkan lagi ke dalam kalimat matematika utamanya untuk materi perkalian dan pembagian pecahan.&#13;
&#13;
PENUTUP&#13;
Kesimpulan&#13;
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: &#13;
Penerapan Model Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan keaktifan peserta didik pada pembelajaran materi persamaan linear satu variabel. Hal ini diindikasikan dari terjadinya peningkatan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran serta secara kuantitatif terpenuhinya semua kriteria yang telah ditetapkan. Penerapan Model Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas VII SMP Negeri Budong-budong, yang indikatornya berupa terjadi peningkatan skor rata-rata penguasaan matematika peserta didik dari skor awal ke Siklus I secara nyata yaitu 44,26 meningkat menjadi 58,70. Demikian pula dari Siklus I ke Siklus II terjadi peningkatan secara nyata yaitu 58,70 meningkat menjadi 77,41.  Peserta didik yang hasil belajarnya berada pada kategori tinggi dan sangat tinggi yaitu 3 orang atau sebesar 11,12% pada Siklus I meningkat menjadi 19 orang atau 71,5% pada Siklus II.&#13;
&#13;
Saran&#13;
Dari hasil penelitian ini, diajukan beberapa saran dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, antara lain :&#13;
1.	Informasi tentang peningkatan hasil belajar peserta didik dan respon peserta didik melalui Model Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) pada materi operasi hitung pecahan menunjukkan bahwa Model Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) bisa menjadi alternatif bagi guru-guru SMP dalam memvariasikan pembelajaran matematika, khususnya untuk materi operasi hitung pecahan.&#13;
2.	Diharapkan kepada guru SD agar mampu mengembangkan dan menerapkan Model Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT)  sejak dini dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik dan meningkatkan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran utamanya keterampilan kooperatifnya sehingga matematika tidak menakutkan lagi bagi peserta didik.&#13;
3.	Sebagai tindak lanjut penerapan, pada saat proses pembelajaran diharapkan guru untuk lebih mengawasi dan mengontrol serta membimbing siswa dalam bekerja kelompok.&#13;
&#13;
DAFTAR PUSTAKA&#13;
Abdul Qadri. 2011. Keefektifan Pembelajaran Kooperatif TGT dengan Penerapan Teori Dienes dalam pelajaran matemtia Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Mappadeceng Kabupaten Luwu Utara. TESIS tidak diterbitkan. Makassar: PPS UNM&#13;
Chaeruddin. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Pustaka Sinar&#13;
Dimyati dan Mujiono. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta&#13;
                . 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta&#13;
Permendiknas. 2006. Standar Isi. Jakarta: BSNP&#13;
Rostiyah. 2012. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta&#13;
Soedjadi, R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika Di Indonesia, (Konstalasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan). Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Depdiknas&#13;
Sari Pamula Galih. 2012. Pengembangan model Team Game Turnament berdasar Teori dienes dalam mata pelajaran matematika Pada siswa kelas V SD http://repository.uksw.edu/handle/123456789/781 (diakses 1 Januari 2013)&#13;
Suherman. Erman. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontenporer. Bandung: JICA Universitas Pendidikan Indonesia.&#13;
		. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.&#13;
Slameto. 2003. Belajar  dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.&#13;
Slavin, E. Robert. 2010. Cooperatif Learning. Bandung: Nusa Media&#13;
Trianto. 2011. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Tim Prestasi Pustaka&#13;
Winkel, W.S. 2004. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi&#13;
www.psychology.mania.com/2012/06/pengertian-prestasi-belajar. diakses tgl 23 Mei 2013&#13;
&#13;
&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>NONE</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Digital Library Management System Universitas Al Asyariah Mandar</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>23</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2018-02-01 09:26:39</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2018-02-01 09:26:39</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>